29 Maret 2008

Cinta Birahi

Oleh dr Taufiq Pasiak

FAKTOR apakah yang membuat lelaki dan perempuan saling tertarik, lalu jatuh cinta? Kawan saya, seorang dokter yang bertugas di pedalaman, bercerita bagaimana ia tertarik pada seorang perempuan penduduk asli, padahal (sebagaimana dirasakannya beberapa tahun kemudian), mereka bukanlah pasangan yang cocok. Sebagai orang berpendidikan, punya pergaulan luas, dan memiliki uang yang banyak, ia seharusnya mendapatkan pasangan yang seimbang. Setidaknya, dari segi-segi tertentu, yang dapat diamati secara kasat mata. Perkawinan 5 tahun tanpa anak—menurutnya—bukanlah perkawinan yang menyenangkan, apalagi jika harus tinggal di tempat yang sepi, dengan ruang gerak yang terbatas. Ini juga menjadi alasan baginya untuk menjalin hubungan dengan seorang perempuan lebih tua, kakak tingkatnya ketika kuliah, dan hanya sedikit lebih cantik dari istrinya. Kakak tingkat ini sudah memiliki pasangan dengan 2 orang anak, dan hidup dalam suasana perkawinan (menurut apa yang tampak) yang menyenangkan. Ketika kuliah dulu mereka bukanlah kawan yang akrab. Perkawanan itu terjadi ketika sama-sama tinggal di suatu tempat yang jauh dari keramaian.
Dari sudut pandang biologi evolusi, perempuan dan lelaki (atau betina dan jantan) saling tertarik karena salah satu di antara mereka melepaskan zat kimia bernama feromon (catatan: banyak minyak wangi yang dibuat meniru aroma feromon). Feromon dilepaskan oleh kelenjar tubuh, terutama pada jenis betina (perempuan), diterbangkan angin, dan masuk ke saraf penciuman lawan jenisnya. Jantan (lelaki) yang menciumnya segera merespon secara seksual. Pada binatang, hubungan ini diakhiri dengan persetubuhan. Fenomena ini, yang memang lebih banyak dijumpai pada binatang, merupakan penjelasan mula-mula bagaimana pasangan saling tertarik. Artinya, biologi evolusi mengedepankan penjelasan birahi untuk menjelaskan mengapa Anda dan saya tertarik pada pasangan kita masing-masing. Helen Fisher (2004), yang menyelidiki ketertarikan ini pada manusia, menyebutnya sebagai cinta jenis lust. Teori jenis cinta dari John Alan Lee (1973) menyebutkan jenis ini sebagai cinta eros dan ludus. Cinta eros dipenuhi dengan birahi yang menggebu-gebu, penuh nafsu dan gejolak. Jika pada binatang cinta jenis eros mudah dijumpai, maka pada manusia (selain jenis eros ini) dapat juga dijumpai cinta jenis agape yang ditandai oleh perasaan memberi yang dalam, tidak egois, dan mementingkan hubungan yang lebih bermutu. Cinta agape adalah cinta kita pada Tuhan, cinta yang rasanya berbeda dengan cinta kita pada pasangan. Meskipun dalam banyak kesempatan para mistikus menggunakan kata-kata berjenis birahi (bliss, extacy, rapture) untuk melukiskan cinta mereka pada Tuhan, tetapi cinta itu memiliki nuansa yang lain. Bukan birahi, karena ketertarikan mereka pada Tuhan bukan karena Tuhan melepaskan feromon.
Lalu, apa saja yang membuat seseorang---katakanlah saya tertarik pada istri saya, atau teman dokter itu tertarik pada orang lain—saling tertarik satu sama lainnya? Apakah sekadar birahi karena feromon? Atau sesuatu yang lebih dari itu. Dengan mengenyampingkan aspek feromon atau ketertarikan yang bersifat emosional, setidaknya ada 4 faktor yang menjadi alasan saling tertarik itu; 1) penampilan fisik (physical attractiveness), 2) kecerdasan (intelligence), 3) status sosial, dan 4) kepribadian (personality). Pada seorang perempuan, simetrisitas wajah, rasio pinggang-pinggul (waist-hip ratio), tinggi tubuh dan tampilan wajah, merupakan faktor utama pembentuk tampilan lahiriah. Perhatikan, dalam alam bawah sadar Anda dan saya, tampilan lahiriah merupakan titik masuk pertama ketika kita tertarik pada seseorang. Kita menjadi mudah tertarik dan terpesona pada seorang yang cantik dan tampan. Sebuah penelitian membuktikan bahwa pada bayi pun, yang belum memiliki pemikiran sadar tentang segala sesuatu, cenderung datang kepada perempuan yang cantik dan lelaki yang tampan, ketika mereka dilepas bebas dan disuruh memilih. Perilaku tanpa sadar ini dipergunakan betul oleh para pekerja iklan, tim sukses kampanye dan pelaku-pelaku bisnis tertentu, untuk meraup keuntungan. Anda perhatikan bagaimana kebanyakan pemilih memilih seseorang karena ketampanan atau kecantikannya. Karena bawaan alam bawah sadar ini warga Amerika pernah mengalami penyesalan tak terkira ketika mereka memilih Warren Harding sebagai presiden mereka. Harding adalah seorang lelaki tampan yang setiap gerakan tubuhnya, bicaranya, tolehannya, merupakan kombinasi gerakan indah dan menarik. Apa yang terjadi kemudian adalah kenyataan yang oleh para ahli sejarah Amerika disebut Warren Harding error, kita telah salah memilih presiden; karena tampilan lahiriahnya, bukan kemampuan dan kapasitas intelektualnya. Harding hanya menduduki jabatan itu 2 tahun saja. Ia meninggal karena penyakit stroke tiba-tiba.
Tampilan lahiriah spesifik adalah simetrisitas wajah. Anda perhatikan, perempuan yang memiliki wajah dan tubuh simetris (sebangun kiri dan kanan) jauh lebih menarik dibandingkan perempuan yang asimetris. Ada kaitan antara simetrisitas tubuh dengan kondisi fisik. Beberapa penelitian menemukan bahwa orang-orang, terutama perempuan, yang memiliki tubuh simetris cenderung; memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik, lebih mudah mengalami orgasme dan ejakulasi, mudah hamil (bagi perempuan), kadar hormon testosteron dan dopamin yang tinggi, serta mudah menimbulkan rangsangan dalam banyak hal. Simetrisitas wajah juga menjadi salah satu kriteria untuk menilai seseorang cantik dan tampan. Tidak usah heran kalau banyak perempuan mengejar simetrisitas wajah ini untuk mendapatkan tampilan maksimal dari dirinya. Saran saya, untuk kita yang kurang beruntung dalam hal tampilan lahiriah, aturlah secara optimal simetrisitas tubuh kita. Perbaikilah kemampuan tubuh kiri dan kanan, serta riaslah sehingga orang melihat bagian kiri dan kanan tubuh kita bagaikan pinang dibelah dua.
Cukupkah tampilan lahiriah menarik seseorang? Tidak! Ada banyak orang yang tertarik karena kecerdasan (pintar bercerita, lucu, memiliki banyak kata-kata dan pintar merangkai cerita) yang dimiliki seseorang. Kawan saya yang lain, yang sudah menikah lebih dari 10 tahun, menyampaikan pandangannya tentang cintanya pada sang istri. Menurutnya, dalam 10 tahun perkawinan mereka, sang istri telah betul-betul kehilangan tampilan lahiriah yang indah, tetapi kini sang istri memiliki kecerdasan jauh melebihi masa-masa 1 atau 2 tahun perkawinan mereka. Ia kini tertarik pada sang istri karena kecerdasan dan kematangan yang kian bertambah. Kecantikan lahiriah, menurutnya, sudah tergantikan oleh kecantikan batiniah yang melebihi segala-galanya. Dan untuk jenis ini ia mendapati pertambahan yang bermakna setiap harinya. Katanya lagi; “lebih nikmat bersetubuh dengan seorang yang cerdas daripada yang cantik”. “saya berulang-ulang terangsang secara seksual kepada istri saya yang cerdas, dibandingkan dulu ketika ia cantik,” lanjutnya. (tidak usah heran kalau dalam dunia pelacuran ‘ayam-ayam kampus’ jauh lebih mahal booking fee-nya dibandingkan ‘ayam kampung’).
Demikianlah, ketika cinta birahi dengan pilar-pilar tampilan lahiriahnya merebut perhatian kita, maka ada banyak hal yang akan hilang.#