16 Februari 2008

Kemajuan, Dimulai Dengan Prinsip Memberi

Oleh Ir Charles Y Karauwan
(Pemerhati Sosial Kemasyarakatan)

KEBANYAKAN manusia senang akan pemberian atau senang diberikan sesuatu. Apa arti dari memberi dan menerima? Di waktu-waktu ini kedua makna kata ini semakin menjadi kabur. Ada orang-orang yang senang menerima sesuatu dan merasa hal itu adalah berkat. Ada juga orang yang suka dan senang memberikan sesuatu, tetapi memiliki maksud tertentu dari pemberian itu. Mengapa kita memberikan perhatian khusus untuk suatu pemberian? Karena suatu pemberian tidak sekadar memiliki nilai tambah, tetapi nilai kali atau multiplikasi. Inilah suatu prinsip yang tetap berlaku sampai hari ini yaitu berilah maka kamu akan diberi. Hal ini dapat dimengerti seperti sebuah benih yang ditaburkan pada suatu tempat, benih yang sehat itu pasti akan bertumbuh dan dari apa yang tumbuh akan keluar benih lagi sehingga dari satu benih yang kecil dan tidak diperhatikan orang itu, akan lahir sebuah perkebunan atau pertanian yang besar. Kebanyakan kita hanya mau melihat apa yang akan kita dapatkan, ingin seperti memiliki perkebunan yang besar tadi, tetapi kita tidak mau menaburkan sesuatu untuk itu. Bangsa kita memiliki filosofi yang sangat agung tentang pemberian ini yang dituangkan dalam peribahasa: berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Peribahasa itu pada prakteknya saat ini telah terbalik menjadi bersenang-senang dahulu bersakit-sakit kemudian, terbukti dengan banyaknya mereka yang menamakan dirinya petinggi di negeri ini yang berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena mereka ingin bersenang-senang dahulu dan tetap bersenang-senang kemudian. Budaya menerima dan mengambil ini telah begitu melekat dan mengental dalam masyarakat kita saat ini. Untuk mengambil hati seseorang atau suatu komunitas, para kandidat untuk suatu jabatan yang didapatkan karena pemilihan sering memanfaatkan kebiasaan ini, tetapi kita tidak akan membahas jenis pemberian seperti ini.
Memberi adalah suatu pengorbanan, dan pasti suatu pengorbanan akan terasa sakit. Untuk mencapai suatu puncak, kita harus berkorban dulu, dan pengorbanan kita haruslah dengan benar, tulus dan tekun. Dalam pengertian ini, hidup yang memberi dapat pula disamakan dengan kita mulai menyimpan sesuatu sebagai investasi. Simpanan kita haruslah kita usahakan semakin banyak, diakumulasikan dan dipadatkan sehingga bernilai tinggi. Hidup yang dipadatkan (press down) adalah hidup yang dengan sengaja direncanakan, diatur atau didisiplinkan untuk tujuan yang positif dan produktif. Secara alamiah, kita bukanlah manusia yang senang disiplin. Tetapi disiplin adalah cara yang benar untuk mendapatkan suatu hidup yang berhasil. Disiplin pada awalnya tidak mengenakkan, tetapi jika itu dibiasakan, maka akan menjadi cara hidup dan memberkati kita. Disiplinkan diri kita dengan pemikiran yang benar, ethos kerja, ethos belajar, ethos berumah tangga, ethos usaha yang benar, karakter yang benar; serta hal-hal lain yang akan membuat kehidupan kita berarti dan bernilai, dan jika kita bernilai, maka harganyapun akan mahal. Mereka yang mengalami hidup yang dipadatkan, tidak kaget dengan apa yang disebut perjuangan hidup. Orang-orang ini melihat kesulitan sebagai tantangan yang harus dimenangkan. Mereka juga menganggap suatu masalah sebagai suatu kesempatan untuk going to another level.
Meskipun digoncangkan (shaken together), mereka belajar sesuatu dari itu, dan justru tekanan ini membuat mereka bukan semakin menurun, tetapi membuat mereka mengalami increase. Kualitas selalu akan menang dan dicari-cari. Kita telah berbicara tentang suatu ukuran atau takaran yang benar dalam kehidupan ini. Secara sederhana, jadikan hidup kita bernilai, sehingga kita akan senantiasa menerima kelimpahan produktif yang terus mengalir (running over) secara berlipat ganda atau bermultiplikasi.
Di awal tahun ini, jika pengertian yang benar akan arti dari memberi ini kita ambil, kita akan mengakhiri tahun 2008 ini dengan keberhasilan. Daerah kita pula akan mengalami kemajuan dan peningkatan karena prinsip kehidupan ini kita terapkan. Begitu banyak penghalang-penghalang semu yang harus ditanggalkan. Kita terfokus dengan konsep-konsep dari luar yang dikemas secara apik yang kelihatannya menjanjikan keberhasilan. Sedemikian, mau tidak mau saat ini kita harus banyak belajar dari kemajuan bangsa lain, tetapi itu jangan membuat kita tidak bangga dengan filosofi bangsa sendiri dan lebih percaya dengan batasan-batasan yang dibuat bangsa lain. Kita lebih percaya bahwa di tahun 2008 ini kita harus waspada karena ada yang akan mengerat dan merugikan usaha, pekerjaan, dan hubungan-hubungan kekeluargaan kita. Kita lupa akan kekayaan warisan bangsa sendiri. Kita bisa menjadi seperti ayam kampung yang kelihatannya akan segera kolaps di atas lumbung padi.
Nasehat yang baik untuk kita adalah ganti baju kita dengan baju baru. Ganti kerangka berpikir atau paradigma kita dengan kerangka berpikir yang baru di tahun baru ini. Jangan lagi lakukan upaya tambal sulam pada baju kita untuk kelihatan berhasil dengan paradigma waktu-waktu yang lalu. Mari bangun bangsa kita dengan prinsip kita memberi dahulu maka kita akan diberi.#